anak-anak · thoughts

Kisah Kedua

Dari dulu bila ada yang bertanya saya mau punya anak berapa maka akan selalu saya jawab ‘tiga!’. Ya, saya memang ingin punya anak tiga, atau empat juga boleh. 😉 Jadi sejak melahirkan Aura saya memang sudah merencanakan untuk hamil lagi dengan jeda waktu sekitar 3 tahun setelahnya. Kenapa 3 tahun? Iya biar pas nanti masuk sekolah enggak barengan bayar uang masuknya (mayan ya bok jaman sekarang uang sekolahan anak), dan juga memberi jeda pada tubuh saya untuk bisa melakukan persalinan vbac.

Setelah Aura berusia 2 tahun saya pun merasa inilah waktunya untuk bersiap hamil kembali. Tapi entah mengapa rasanya masih maju mundur. Rasanya memang ingin punya anak kedua, tapi saya juga merasa belum siap. Belum siap membagi perhatian dan kasih sayang yang selama ini hanya untuk Aura. Saya juga takut kalau nanti ternyata saya tidak bisa menyayangi anak kedua saya sebesar saya menyayangi Aura.

a80v5202

Singkat cerita di tahun ketiga saya pun hamil kembali. Kalau ditanya apa rasanya, saya jelas excited, senang rasanya mengetahui bahwa ada kehidupan di dalam rahim saya, bahwa Allah SWT mempercayai saya untuk kembali menjaga amanahNya. Tapi saya tidak bisa bohong bahwa masih ada rasa takut dan kekhawatiran yang membayangi saya. Walaupun perlahan saya tepis jauh-jauh rasa takut itu.

a80v5219

Trimester pertama kehamilan saya lalui dengan sangat menyiksa. Mood swing parah, mual dan muntah yang tidak berkesudahan, badan lemas, stres juga rasanya karena saya harus tetap mengurus Aura sementara kondisi fisik saya sendiri tidak mau bekerjasama. Bahkan saya sempat diopname semalam di rumah sakit karena hyperemesis. Untungnya drama muntah-muntah itu tidak berlangsung sepanjang kehamilan. Di bulan kelima, muntah-muntah pun mereda, dan nafsu makan saya mulai kembali muncul. Perlahan berat badan yang sempat turun lumayan banyak di awal kehamilan kembali naik.

Trimester kedua saya lalui dengan cukup nyaman. Saya pun mulai mendaftar kelas-kelas prenatal yoga. Memperbanyak gerak tubuh, merubah pola makan menjadi lebih sehat, berusaha agar berhasil melahirkan secara pervaginam. Di trimester kedua ini pun saya mencari dokter yang pro vbac. Karena provider kesehatan yang mendukung adalah yang paling penting buat saya. Akhirnya saya bertemu dengan dr Ridwan di Kemang Medical Care. Jarak BSD-Ampera yang cukup jauh dan waktu tunggu konsultasi yang cukup lama bukan masalah bagi saya. Pertama kali konsul dengan beliau saya malah ditanya “jadi nanti persalinannya mau normal atau sc lagi Bu?” Itu saya seneng banget sih dengernya, biasanya kan dokter langsung vonis sc aja kalau melihat riwayat sc pada persalinan sebelumnya, atau kalau engga pun merekalah yang menentukan apakah di persalinan berikutnya si ibu akan melahirkan pervaginam atau sc. Tapi ini saya malah ditanya maunya saya apa. :”) Saya pun semakin mantap untuk melahirkan dibantu oleh beliau.

Di trimester ketiga saya memutuskan untuk menggunakan jasa doula. Karena saya merasa pada persalinan kali ini saya butuh banyak dukungan dari orang-orang yang benar-benar mendukung untuk dapat melahirkan pervaginam. Kebetulan saya juga sudah kenal dengan Mba Imu, doula saya, jadi saya enggak ngerasa canggung bila akan ditemani saat lahiran. Saya dan suami juga sempat mengikuti kelas persiapan persalinan di trimester ketiga ini agar kami berdua lebih siap menghadapi hari H. Selain itu saya masih rajin mengikuti kelas-kelas prenatal yoga, juga mencoba yoga sendiri di rumah dengan mengikuti video-video prenatal yoga di youtube. Memperbanyak asupan protein, powerwalk, membaca buku-buku tentang melahirkan nyaman juga gentle birth, menanamkan afirmasi-afirmasi positif pada diri saya, mencoba hynobirthing, komunikasi janin, dan sebagainya, semua saya lakukan demi berhasil bersalin vbac.

Karena saya sangat trauma dengan persalinan saya yang pertama. SC terencana di minggu ke 37 karena janin posisi sungsang. Saat itu saya yang cukup sok tau dan tidak mau belajar banyak hanya bisa pasrah saat divonis harus operasi. Harusnya saya lebih banyak bergerak saat itu, harusnya saya berusaha lebih keras untuk memberi ruang bayi saya agar mau berputar ke posisi lahir, harusnya saya masih bisa menunggu lebih lama daripada 37 minggu, harusnya saya mencari second bahkan third opinion dari provider lain, dan sejuta harusnya lain yang tidak berhenti menghantui selama ini. Dan menurut saya, semua trauma itu akan sembuh dengan persalinan vbac yang berhasil di persalinan kedua saya ini. Maka saya siapkan semua semaksimal mungkin agar tidak ada celah untuk gagal.

Yang tersulit dari trimester ketiga ini adalah menunggu. Apalagi untuk bersalin secara vbac kunci utamanya adalah SABAR. Saya si overthinking jadi gelisah tiap harinya, apalagi di minggu-minggu akhir kehamilan. Stres, enggak bisa tidur, menunggu kapan gelombang cinta mulai datang. Di minggu ke 37 juga saya sempat melakukan release dengan Mba Imu, doula saya. Saat release saya keluarkan semua unek-unek yang masih mengganjal pada diri saya. Saya lepaskan semuanya agar saya semakin tenang menyambut datangnya persalinan. Tapi kembali lagi, yang bisa saya lakukan hanya berusaha dan menunggu. Karena semua sudah siap untuk menyambut janin saya lahir, semua sudah menyanggupi untuk membantu saya bersalin secara vbac. Di minggu ke-36 ketebalan rahim sudah 2.5mm, melewati batas minimum yang disyaratkan oleh dokter kandungan saya, bayi pun sudah masuk panggul. Suami dan doula juga sudah siap setiap saat untuk menemani ke rumah sakit bila sudah ada tanda persalinan dimulai. Mama pun sudah datang dari Pontianak untuk menemani Aura bila sewaktu-waktu saya sudah akan melahirkan. Tapi adek bayi belum memberi tanda selain kontraksi palsu yang semakin kuat. Hingga minggu ke 39 tiba. Lanjut di 44 Jam yang Menyembuhkan.

Advertisements
thoughts

(a very late post on) 3rd anniversary

Iya, ini postingan super telat. 11 Januari yang lalu tepat 3tahun saya dan suami married. Nggak ada perayaan apa-apa sih, cuma tukeran cake karena ternyata kita berdua sama-sama pengen kasi surprise gitu. Saya bikin tiramisu dibantuin direcokin sama Aura, eh ternyata pas pulang kantor suami bawa cheesecake. Tapi yang paling spesial adalah Aura dengan manisnya… Continue reading (a very late post on) 3rd anniversary

thoughts

a roller coaster called motherhood

Setelah menikah dan hamil, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan menjadi stay at home mom. Saat itu saya super excited jadi SAHM. Sambil nungguin calon bayi saya lahir, saya banyak baca-baca buku tentang pregnancy, newborn, baby, parenting, and so on. Tapi ada yang terlewat, saya lupa membekali diri dengan pengetahuan tentang baby blues dan… Continue reading a roller coaster called motherhood